“Jangan sampai peradaban ini terus direndahkan karena lalainya kita dalam memperhatikan dan peduli pada kekurangan-kekurangan yang ada saat ini!” (Fatih Madini, 2018: 61)

Alhamdulillah, Buku berjudul: “MEWUJUDKAN INSAN&PERADABAN MULIA” (DEPOK : YPI ATTAQWA, 2018), telah TERBIT! Buku ini adalah karya Fatih Madini (16 Tahun), santri di PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization) PP ATTAQWA DEPOK (www.ponpes-attaqwa.com). Buku ini merupakan catatan pemikiran seorang santri millennial; berisi gagasan-gagasan penting tentang PENDIDIKAN, ILMU, DAN PERADABAN. Terbitnya buku ini bisa dikatakan satu bukti bahwa pendidikan memang sudah sepatutnya mendidik anak menjadi dewasa dan mandiri pada umur 15 tahun; dimana pada usia tersebut anak sudah harus mandiri dlm aqidah, ibadah, akhlak, dan memiliki idealisme perjuangan.

Buku ini pun bisa menjadi satu bahan kajian tentang model pendidikan berbasis adab, yang kurikulumnya mendahulukan ilmu-ilmu fardhu ain, dipadukan dengan ilmu-ilmu fardhu kifayah, agar melahirkan generasi pajuang, yang cinta ilmu, cinta kebenaran dan bersemangat dalam mencegah kemunkaran. Pesan ke DiFa Agency 085777878595. Transfer ke Bank Syariah Mandiri No 7010110852 an Megawati. (Spesifikasi buku: Hard Cover, 316 hlm, harga Rp 90 ribu).

***

Fatih Madini (16 tahun), lahir di Depok, 9 Septemver 2002. Saat berusia 10 tahun, mulai menempuh pendidikan non-formal, Pesantren Adab dan Ilmu (PADI) Attaqwa Depok.

Sejak saat itu, bersama rekan-rekannya, Fatih Madini mulai menjalani konsep pendidikan berbasis adab di bawah bimbingan Dr. Muhammad Ardiansyah. Ayah beranak dua yang kini mengasuh Pesantren Attaqwa Depok adalah doktor yang kembali menggaungkan konsep adab Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas melalui disertasi doktoralnya di UIKA Bogor yang berjudul: “Konsep Pendidikan Berbasis Adab menurut Prof. Muhammad Naquib Al-Attas dan Penerapannya di Perguruan Tinggi.”

Di PADI, sekolah barunya itu, mulailah Fatih Madini mengkaji kitab-kitab adab berbahasa Arab-Melayu, antara lain Adabul Insan dan Risalah Dua Ilmu karya Sayyid Utsman, mufti Betawi pada zaman penjajahan Belanda. Selain itu, Fatih juga belajar bahasa Inggris, jurnalistik, dan sebagainya.

Lulus dari PADI, Fatih melanjutkan pendidikan ke Pesantren Shoul Lin (setingkat SMP) dan PRISTAC (Pesantren for The Study of Islamic Thought and Civilization/setingkat SMA) yang bernaung di bawah Pesantren Attaqwa Depok. Di pesantren inilah Fatih melanjutkan kajian berbagai kitab adab, aqidah, ilmu, fiqih, dan sebagainya.

Di samping itu, di PRISTAC, para santri dididik dengan cukup intensif memahami pemikiran-pemikiran kontemporer dan pemikiran ulama nusantara. Kemampuan komunikasi santri diasah, baik keterampilan menulis dan berbicara.

Dengan perkembangan intelektual, akhlak, dan kemampuan menulis para santri PRISTAC ini, maka insya Allah, mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, yaitu Pesantren Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam, Attaqwa College. Perguruan tinggi non-formal Attaqwa College merupakan jenjang pendidikan terakhir di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Attaqwa Depok. Para santri disiapkan menjadi kader pejuang intelektual yang siap berkiprah di tengah masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral untuk menguasai bidang ilmu tertentu yang dibutuhkan umat dan bangsa Indonesia. (www.ponpes-attaqwa.com).

Mewujudkan Perguruan Tinggi Ideal, Paparan tentang Pesantren Tinggi Attaqwa, ATTAQWA College

Categories: News

Leave a Reply