Profile

I. Konsep Dasar: Urgensi Adab dan Ta’dib

Tahun 1977, dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam Pertama, di Makkah, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyampaikan teori penting ke dunia Islam, bahwa problem umat Islam yang paling mendasar adalah “hilang adab” (loss of adab). Solusi dari masalah umat tersebut adalah dengan “pendidikan” yang disebut sebagai “ta’dib”. “Loss of adab” adalah: “loss of discipline – the discipline of body, mind, and soul; the discipline that assures the recognition and acknowledgement of one’s proper place in relation to one’s self, society, and community; the recognition and acknowledgement of one’s proper place in relation to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials; the recognition and acknowledgement of the fact that knowledge and being are ordered hierarchically.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1979, hlm.2).

Pentingnya adab dalam kehidupan manusia sudah banyak pula dikemukakan oleh para ulama terdahulu. Imam Ibnu Katsir, dalam Kitab Tafsirnya, menyebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. memaknai perintah Allah “Qū anfusakum wa-ahlȋkum nārā” (dalam QS at-Tahrim:6), dengan “addibūhum wa ‘allimūhum (didiklah mereka agar beradab dan ajari mereka ilmu). (Al-Hafizh Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, , Juz III, (Singapura:Sulaiman Mar’i, tt), hlm. 391).
Rasulullah SAW bersabda:

 وأحسنوا أدبهم أكرموا أولادكم ‎
 “Muliakan anak-anak kalian, dan perbaiki adab mereka”. – HR. Ibn Majah, no. 3671
 هذا أدبته أمه وأنت أدبتك أمك
 “Ibunya telah mendidiknya dan ibumu telah mendidikmu”. – HR. Muslim, no: 66
 أَدَّبَنِى رَبِّى وَنَشَأْتُ فِى بَنِى سَعْدٍ
 “Tuhanku telah mendidikku dan aku tumbuh besar di kalangan Bani Sa’ad.” Jami’ al-Ahadits, Vol. II, hlm. 88, hadits no. 960 (dalam Maktabah Syamilah)
 مَا وَرَثَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
 ‘Tidak ada warisan yang lebih baik daripada pendidikan yang baik.’” (H.R. Ath-
 Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath).

Sejumlah ulama juga menulis kitab terkait dengan adab, seperti al-Mawardi (w. 450 H), menulis Adab ad-Dunya wa ad-Din, Muhammad bin Sahnun at-Tanwukhi (w. 256 H) menulis Adab al-Mu’allimin wa al-Muta’allimin, juga al-Khatib al-Baghdadi ( w. 463 H) menulis al-Jami’ li-Akhlaq al-Rawi wa Adab as-Sami’. Ulama Tabi’in, Abdullah Ibn al-Mubarak juga mengatakan, bahwa hampir-hampir adab itu merupakan dua pertiga agama. (صفة الصفوة (4/ 145)
 شريح بن مسلمة قال سمعت عبد الله بن المبارك
(يقول كاد الأدب يكون ثلثي الدين

Di Indonesia, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, menulis kitab khusus tentang Adab, berjudul, Ādabul Ālim wal-Muta’allim. Ditulis dalam Kitab tersebut: ”at-Tawhīdu yūjibul īmāna, faman lā īmāna lahū lā tawhīda lahū; wal-īmānu yūjibu al-syarī’ata, faman lā syarī’ata lahū, lā īmāna lahū wa lā tawhīda lahū; wa al-syarī’atu yūjibu al-adaba, faman lā ādaba lahū, lā syarī’ata lahū wa lā īmāna lahū wa lā tawhīda lahū.” (Hasyim Asy’ari, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H).

Jadi, menurut Kyai Hasyim Asy’ari, Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.

Tahun 1973, dalam bukunya, Risalah untuk Kaum Muslimin, Prof. al-Attas sudah menjelaskan makna adab secara terperinci. Juga, dalam bukunya, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, (Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia, 2007, hlm. 42-43), Prof. al-Attas menjelaskan lebih jauh makna adab yang dimaksudnya:

“Adab, atau amalan, tindakan, dan perbuatan yang betul, itulah yang merupakan pengakuan yang dimaksudkan. Jadi, pendidikan itu adalah penyerapan adab ke dalam diri. Penjelmaan adab dalam diri-diri persendirian yang membentuk masyarakat sebagai suatu kumpulan membayangkan keadaan keadilan; dan keadilan itu sendiri adalah suatu yang menayangkan hikmah, yang merupakan cahaya nan terbit dari lampu nubuwwat, yang membolehkan si penerimanya mendapat tahu letaknya tempat yang betul dan wajar bagi suatu benda atau kewujudan makhluk. Keadaan berada pada tempat yang wajar itulah keadilan; dan adab itu perbuatan yang disadari yang dengannya kita menjelmakan keadaan berada pada tempat yang wajar. Jadi adab, dalam pengertian an dita’rifkan di sini, adalah juga suatu pancaran hikmah; dan berkenaan dengan masyarakat, adab itu peraturan adil yang terdapat di dalamnya. Dita’rifkan dengan ringkas, adab itu tampaknya keadilan sebagaimana dia dipancarkan oleh hikmah.”

Begitulah pentingnya penanaman adab dalam diri seorang Muslim. Itulah yang dimaksud sebagai ta’dib (pendidikan). Karena itu, Pesantren at-Taqwa Depok berusaha mengambil dan menerapkan konsep adab untuk diterapkan dalam lembaga pendidikannya, agar bisa membentuk manusia-manusia yang beradab. Yakni, manusia yang baik; manusia yang beradab kepada Allah, yang tidak syirik kepada Allah; manusia yang beradab kepada Rasulullah saw, yakni yang mencintai Rasul saw dan menjadikannya sebagai suri tauladan (uswatun hasanah). Manusia beradab juga hormat dan taat kepada guru dan orang tua; menghargai dan cinta ilmu serta memahami kedudukan ilmu pada tempatnya; memahami potensi dirinya dan berusaha keras untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Manusia beradab pun memiliki kemampuan fisik dan bela diri yang tinggi sehingga mampu menjalankan kewajibannya sebagai Muslim dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara optimal.

Sesuai dengan perintah al-Quran dan beberapa hadits Nabi Muhammad saw, perintah untuk menjadikan anak-anak agar menjadi manusia beradab merupakan kewajiban terpenting dari orang tua. Karena itulah, perlu ada kerjasama yang erat dan sungguh-sungguh, antara orang tua dan guru agar pendidikan di at-Taqwa Qur’anic School berhasil membentuk murid-murid menjadi manusia yang memiliki adab yang baik.

II. Sejarah

At-Taqwa Qur’anic School dimulai keberadaannya pada tahun 1998, dengan dibukanya Taman Pendidikan al-Quran (TPA) di alamat Komplek Timah Blok CC V/100, Kelapa Dua Depok. Dalam satu tahun, murid peserta didik yang mengaji al-Quran mencapai sekitar 40 orang. Alhamdulillah, hingga tahun 2014 ini, TPA at-Taqwa masih tetap berlangsung.
Atas usulan para wali murid, TPA kemudian dikembangkan menjadi TK yang mulai beroperasi mulai tahun 2000. Hingga tahun 2012, jumlah lulusan TK at-Taqwa sudah mencapai sekitar 700 orang. Jumlah murid TK saat ini mencapai 137 orang, dengan guru sebanyak 12 orang, dan pekerja sekolah 2 orang. Tahun 2008, TK at-Taqwa mendapat akreditasi dengan peringkat “amat baik” (A).

Meskipun tercatat sebagai salah satu sekolah berkualitas tinggi yang dibuktikan dengan berbagai prestasi para guru dan muridnya, TK at-Taqwa tetap berpegang pada prinsip pendidikan Islam, bahwa pendidikan adalah suatu aktivitas dakwah yang tidak membeda-bedakan murid berdasarkan kemampuan finansialnya.
At-Taqwa Qur’anic School menetapkan slogan pendidikan “Pendidikan Berbasis Adab”. Maknanya, pendidikan ini dikelola dengan sungguh-sungguh dengan tujuan mengembangkan potensi murid sesuai dengan kemampuannya, sehingga dia kelak dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Sebab, kata Nabi Muhammad SAW: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia.

Mulai tahun 2011, juga atas usulan sejumlah wali murid, dibukalah at-Taqwa Qur’anic School tingkat Sekolah Dasar, yang dimulai dengan 23 murid. Kegiatan Belajar-Mengajar at-Taqwa SD ini dimulai dengan membangun satu saung di sebuah lahan pinjaman dari keluarga Bapak Azhar Zainuri, di Komplek Timah.
Tahap berikutnya, tahun 2012, YLPI at-Taqwa menerima tanah wakaf seluas 300 m2 di Gang Haji Usman Jalan RTM, Kelapa Dua Depok, yang kini digunakan untuk lokasi KBM sekolah at-Taqwa tingkat SD. Kini, sekolah at-Taqwa tingkat SD telah memiliki murid sebanyak 72 orang dan guru sebanyak 9 orang. Di lokasi wakaf ini juga telah dibangun enam kelas (gedung berlantai dua) dan satu bangunan kamar mandi.

Kini, tahun 2014, YLPI at-Taqwa juga telah membuka Ma’had Aliy Hujjatul Islam, yaitu suatu program pendidikan Islam pada Tingkat Pendidikan Tinggi yang juga menekankan pemahaman dan aplikasi konsep adab. Alhamdulillah, Ma’had ‘Aliy Hujjatul Islam kini diikuti 30 mahasantri dari berbagai latar belakang aktivitas: ibu rumah tangga, guru, mahasiswa UI, UNJ, dan lain-lain.

InsyaAllah, mulai tahun ajaran 2015/2016, karena adanya permintaan beberapa wali murid dan tuntunan kebutuhan untuk mewujudkan suatu model pendidikan yang berbasis adab, di semua jenjang pendidikan, maka YLPI at-Taqwa akan membuka Pesantren Shoul-Līn tingkat SMP. Murid inti dari Pesantren adalah alumnus Attaqwa Quranic School tingkat SD.