Berikut ini wawancara wartapilihan.com dengan Dr. Adian Husaini tentang PRISTAC.

Setahun lalu, di bulan Desember 2016, bersama Dr. Alwi Alatas, Dr. Muhammad Ardiansyah, dan lain-lain, Dr. Adian Husaini meluncurkan program pendidikan tingkat SMA bernama PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization). PRISTAC berada di bawah naungan Pesantren at-Taqwa Depok, dimana Dr. Adian menjadi pembinanya.

Setelah hampir satu tahun berjalan, bagaimana perkembangan PRISTAC saat ini? Berikut ini wawancara wartapilihan.com (Warpil) dengan Dr. Adian Husaini, yang juga Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Warpil: Setelah satu tahun, bagaimana perkembangan PRISTAC saat ini?

Adian: Sebenarnya, proses pendidikan di PRISTAC belum satu tahun, tetapi baru sekitar 7 bulan. Programnya kita luncurkan satu tahun lalu. Meskipun begitu, kami merasa, bahwa program ini merupakan program pendidikan yang tepat untuk santri tingkat SMA, dari jalur non-formal. Ujian kelulusan menggunakan paket C. Standar Kompetensi Lulusan secara prinsip mengacu kepada konsep pendidikan Islam, yang kebetulan juga sejalan dengan Permendikbud No 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Warpil: Bisa dijelaskan, seperti apa tepatnya?

Adian: Prinsip dasarnya, usia SMA (15-18 tahun) adalah usia dewasa. Mereka bukan anak-anak lagi. Sehingga konsep pendidikannya adalah konsep pendidikan untuk orang dewasa. Di PRISTAC para santri kita latih untuk menjadi manusia yang mandiri; mandiri dalam pemikiran, mandiri dalam sikap, dan mandiri dalam kehidupan. Jadi, PRISTAC bukan sekedar pendidikan semacam pra-universitas. Para santri sudah dididik seperti mahasiswa: belajar mandiri, membaca buku, membuat resensi, menulis makalah, memberikan presentasi, mengajar, menghadiri diskusi dan seminar-seminar ilmiah, berwirausaha, dan sebagainya.

Warpil: Apa itu tidak terlalu cepat?

Adian: Tidak! Saya sudah menelaah proses pendidikan di masa lalu, sejak masa Nabi Muhammad saw, sampai di Indonesia sekitar tahun 1960-an. Bahkan, SMA di masa Belanda (AMS), sudah melakukan pendidikan seperti itu. Di pesantren-pesantren dikenal pendidikan Mu’allimin, biasanya setingkat SMP-SMA. Para santri tingkat Mu’allimin dulu dididik sebagai orang dewasa yang disiapkan untuk mandiri, menjadi guru (mu’allim). Ki Hajar Dewantara membuat jenjang pendidikan ‘Taman Dewasa’, yang berkisar pada umur 14-16 tahun. Riset empiris juga menunjukkan, otak wanita rata-rata dewasa pada umur 12-14 tahun. Sedangkan otak laki-laki dewasa pada umur 14-16 tahun. Di masa Nabi saw, batas orang boleh ikut perang adalah 15 tahun. Itu batas umur antara anak dan dewasa. Jadi, jangan sampai lulus pendidikan tingkat SMA, santri atau siswa masih bersifat kekanak-kanakan, meskipun diberi istilah baru yang bernama “remaja”.

Warpil: Sekarang banyak anak-anak lulus S-1 pun tampak belum dewasa? Bagaimana cara ‘mendewasakan’ para peserta didik?

Gedung PRISTAC, sederhana bersahaja.

Adian: Di sinilah pentingnya model pembelajaran, disamping memperhatikan tingkatan umur. Para santri atau siswa tingkat SD-SMP, harus diarahkan menjadi orang dewasa. Sedangkan pada usia SMA diarahkan menjadi orang yang mandiri. Mereka harus diajar untuk mengenal dirinya, Tuhannya, mengenal hakikat kehidupan dunia, dan mengenal hakikat kehidupan akhirat. Kalau di PRISTAC, ini masuk pelajaran Islamic worldview. Para santri harus mempelajari kitab-kitab adab, seperti Ta’limul Muta’allim, Adabul Alim wal-Muta’allim, Gurindam 12, karya Raja Ali Haji. Model pembelajaran para santri bukan hanya melatih mereka terampil menjawab soal-soal ujian, tetapi mereka dilatih menjawab soal-soal kehidupan dan peduli dengan problematika masyarakat, bangsa, dan dunia internasional.

Warpil: Apa keistimewaan lain dari PRISTAC?
Adian: Pimpinan PRISTAC ini adalah Dr. Alwi Alatas, seorang doktor sejarah lulusan International Islamic University Malaysia. Beliau, juga saya, tinggal bersama para santri PRISTAC di pesantren, sehingga kami punya kesempatan luas untuk berinteraksi. Juga ada Dr. Muhammad Ardiansyah, mudir Pesantren at-Taqwa, yang menaungi PRISTAC, tinggal di pesantren juga. Sejumlah ilmuwan muslim pernah mengajar para santri PRISTAC, seperti Dr. Syamsuddin Arif, Ust. Adnin Armas MA, Dr. Henri Shalahuddin, dan sebagainya. Prof. Wan Mohammad Nor dari Malaysia juga pernah mengisi seminar dan berdialog dengan santri PRISTAC.

Warpil: Apa santri-santri PRISTAC juga belajar mata pelajaran SMA, seperti matematika, Biologi, Fisika, Kimia, dan sebagainya?

Adian: Mereka akan belajar juga. Namun, pada tahap awal – sesuai dengan konsep pendidikan berbasis adab – yang kita tanamkan adalah adab. Artinya, mereka harus memahami pemikiran mendasar sebagai manusia dan pelajar yang sedang menuntut ilmu. Sikap dan perilaku yang betul itu yang pertama kali harus tertanam. Mereka harus tahu bagaimana hormat pada guru, cinta ilmu, cinta kebersihan, cinta ibadah, cinta dakwah, tidak malas, dan sebagainya. Jika sikap dan perilaku yang betul itu sudah terbentuk, insyaAllah, mereka akan mengejar ilmu-ilmu yang diperlukan, baik untuk bekal kemandirian mereka hidup di tengah masyarakat, atau untuk bekal mereka melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Warpil: Apa model pendidikan seperti PRISTAC itu sesuai dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Adian: Sangat sesuai. Ini sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 ayat (c), UU Sisdiknas No 20/2003, dan juga Permendikbud No 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Bahwa, intinya, pendidikan kita harus membentuk lulusan yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia. Kita mengambil sistem non-formal, yang diakui oleh Undang-undang. Dalam Permendikbud No 20 tahun 2016 memberikan kriteria kelulusan pada tiga aspek, yaitu sikap, pemikiran, dan ketrampilan. Menurut saya, model pendidikan pesantren sangat tepat untuk mewujudkan target-target kompetensi lulusan. Yang terpenting dalam hal ini adalah kualitas dan keteladanan guru. Sebab, di pesantren, ada interaksi guru dan santri selama 24 jam. Santri bisa melihat langsung kehidupan guru mereka. Belajar ilmu dan adab.

Warpil: Lalu, apa bedanya PRISTAC dengan pesantren-pesantren tingkat SMA atau dengan sekolah Islam berasrama (Islamic Boarding School) lainnya?

Adian: Di PRISTAC kurikulum kami rancang sangat dinamis, mengikuti konsep keilmuan dalam Islam, yaitu mengajarkan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Kurikulum inti adalah adab dan ilmu-ilmu fardhu ain. Penguasaan ilmu-ilmu fardhu kifayah dilakukan secara proporsional berdasarkan potensi intelektual santri dan keperluan masyarakat. Proses pembelajaran bisa berubah, jika target-target kompetensi tertentu belum tercapai.

Warpil: Apa di PRISTAC juga ada proram Tahfidz al-Quran?
Adian: Ada, tetapi tidak kami jadikan yang utama. Sebab, yang utama adalah adab, yakni sikap dan pola pikir mereka yang benar sebagai seorang muslim. Ini sangat berat. Kami dorong santri menghafal, sesuai kemampuan. Ada yang hafal 10 juz, ada yang 3 juz. Bahkan, untuk santri tertentu, kami dorong lulus PRISTAC, mereka bisa hafal 30 juz. Yang kami tekankan, adalah adab mereka kepada al-Quran. Kalau mereka sudah paham dan cinta al-Quran, insyaAllah, dalam waktu satu tahun, mereka bisa secara khusus mengambil program Tahfidz, sampai hafal 30 juz. Kami sudah teliti masalah ini. Jadi, jangan sampai Tahfidz al-Quran menjadi beban mereka, atau mereka banyak hafal ayat-ayat al-Quran tetapi sikap dan perilakunya tidak sesuai dengan al-Quran.

Warpil: Kalau begitu, PRISTAC ini hanya untuk anak-anak pintar?

Adian: Konsep pendidikan yang ideal adalah yang berupaya mengembangkan manusia sesuai dengan potensinya. Di PRISTAC, para santri ditawarkan dua jalur program: kelas Pemikiran Islam dan kelas Wirausaha. Itu sesuai dengan potensi intelektual dan minat mereka. Tetapi, intinya, yang fardhu ain, materinya sama: misalnya, shalatnya harus baik, akhlaknya mulia, bacaan al-Quran-nya benar, dan sebagainya. Setiap anak diberikan potensi yang berbeda oleh Allah SWT. Maka, yang pintar diarahkan menjadi ilmuwan bidang tertentu, sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bukan berdasarkan pada angan-angan meraih keuntungan kekayaan. Ini sesuai dengan prinsip fardhu kifayah dalam Islam.

Warpil: Maksudnya ‘prinsip fardhu kifayah’ itu bagaimana?

Adian: Misalnya, saat ini anak-anak pintar di SMA, biasanya akan memilih program studi kuliah yang dianggap ‘keren’, seperti Kedokteran, Akuntansi, dan sebagainya. Jarang sekali anak-anak pintar memilih bidang bahasa, budaya, perbandingan agama, pendidikan sejarah, pendidikan agama, pendidikan Kewargaan Negara, dan sebagainya. Semua itu dianggap masih kurang menjanjikan masa depan. Padahal, secara kifayah (kecukupan), jumlah yang mau jadi dokter sudah sangat berjubel. Sementara kita masih sangat kekurangan ilmuwan setingkat Doktor dalam bidang sejarah, bahasa, Islam dan budaya, perbandingan agama, dan sebagainya. Jadi, sementara ini, kami mengarahkan, agar para santri yang pintar-pintar di PRISTAC, mereka mendalami ilmu tertentu yang diperlukan oleh masyarakat. Pada taraf ini, kami berusaha menanamkan rasa cinta ilmu. InsyaAllah, mereka nanti akan siap mandalami ilmu apa saja, karena ‘adab ilmu’ sudah tertanam.

Warpil: Kira-kira, lulusan PRISTAC itu nantinya akan diarahkan kuliah dimana?
Adian: InsyaAllah, untuk anak-anak yang akan melajutkan kuliah di Perguruan Tinggi, khususnya dari kelas Pemikiran Islam, akan kita arahkan untuk kuliah di kampus-kampus Islam terbaik, dengan mengambil program studi (jurusan) yang diperlukan oleh masyarakat. Tujuannya agar mereka memiliki satu bidang keilmuan tertentu untuk bekal hidup dan aktivitas dakwah mereka. Selemah-lemahnya intelektual santri PRISTAC, kita berusaha mendidik mereka agar menjadi orang yang bermanfaat. InsyaAllah, mereka sudah bisa memimpin shalat, mengajar mengaji, mengajar silat, berwirausaha, dan sebagainya.

Warpil: Mengapa santri-santri PRISTAC tidak ditekankan sejak awal untuk mendalami turats Islam dan menghafal al-Quran 30, seperti di berbagai pesantren?

Adian: Kami memandang, tantangan atau ujian iman terberat saat ini adalah menghadapi pemikiran-pemikiran yang destruktif terhadap aqidah dan akhlak. Maka disamping memahami dan memeluk aqidah Islam dengan baik, para santri juga harus memahami paham-paham kontemporer yang bisa merusak iman, seperti paham liberalisme, sekulerisme, pluralism agama, dan sebagainya. Jangan dianggap remeh usaha untuk menyelamatkan iman di zaman seperti sekarang. Itulah yang harus menjadi prioritas. Jangan sampai terjebak dalam paham yang merusak iman. Sebab, jika iman rusak, maka amal menjadi sia-sia, tiada berniai.

Warpil: Apa anda optimis akan masa depan PRISTAC?
Adian: InsyaAllah kami optimis. Sebab, secara konseptual, PRISTAC menerapkan konsep baku pendidikan Islam yang telah diterapkan sepanjang sejarah Islam, yaitu seperti yang dirumuskan oleh Umar bin Khathab r.a.: Taaddabuu tsumma ta’allamuu! (Beradablah kalian, kemudian berilmulah). Konsep ini telah melahirkan sejumlah generasi gemilang dalam sejarah.

Warpil: Apa buktinya, PRISTAC ini sistem pendidikan yang terbaik?
Adian: Sebagai muslim, kita diperintahkan menjadi yang terbaik. Saya yakin, ini yang terbaik, maka anak saya juga menuntut ilmu di PRISTAC.

Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 19 Februari 2018)

Sumber: https://www.wartapilihan.com

Simak video profil PRISTAC berikut ini:


Leave a Reply