Oleh: Dr. Adian Husaini, Pendiri dan Pembina Pesantren ATTAQWA Depok


Pendidikan Kita Gagal?

Pada 24 Oktober 2017, saya diundang Lembaga Pengkajian MPR RI, untuk menjadi salah satu nara sumber dalam acara Round Table Discussion (Diskusi Satu Meja). Temanya, “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Pendidikan Nasional Menurut UUD NRI 1945”.

Sejumlah pakar dan praktisi pendidikan hadir. Ada Prof. Dr. Arief Rachman, Prof. Dr. Din Syamsuddin, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Anwar Arifin, Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, beberapa rektor Perguruan Tinggi, Ketua Umum PGRI, dan sejumlah pakar pendidikan lain. Turut hadir sejumlah anggota Lembaga Pengkajian MPR, pimpinan MPR, para dosen dan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi.

Beberapa narasumber dan anggota Lembaga Pengkajian MPR menyatakan, bahwa pendidikan kita sudah gagal. Benarkah?

Yang menarik, dalam kesempatan tersebut, mantan Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Satryo Soemantri Brojonegoro, menyajikan makalah berjudul ‘Mempertanyakan Cetak Biru Pendidikan Indonesia’. Prof. Satryo menegaskan, “Sekolah bukanlah sebuah pabrik atau pun sebuah kantor.” Jika sekolah dianggap dan dikelola sebagai sebuah pabrik, katanya, maka murid-murid dianggap sebagai benda mati yang akan diolah dengan berbagai peralatan dan proses agar menjadi produk tertentu.

Sekolah, tegas Prof. Satryo, juga bukan sebuah kantor. Jika sekolah dianggap sebagai kantor, maka murid-murid diperlakukan sebagai bawahan atau pegawai yang harus taat dan menjalani rutinitas serta patuh pada atasan; tidak boleh bernalar, tidak boleh berkreasi, bernalar, berargumentasi, dan berbeda pendapat. belum “Pendidikan adalah proses pembentukan dan pengembangan kapasitas intelektual dan kejiwaan individu sesuai dengan potensi kejiwaan setiap individu,” kata Prof. Satryo.

Sebuah data survei disajikan Prof. Satryo. Sebanyak 460 perusahaan di Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan disurvei. Hasilnya, sebagian besar pimpinannya menyatakan rendahnya ‘soft skill’ para karyawannya. Berikut datanya: 92% pimpinan perusahaan menyatakan, karyawannya sangat lemah dalam membaca; 90% menyatakan lemah dalam menulis; 84% lemah dalam etos kerja; 83% lemah dalam kemampuan komunikasi; dan 82% lemah bekerja dalam tim.

Data itu tampak memilukan. Hasil proses pendidikan yang sejak awal ditujukan untuk mencetak ‘pekerja yang baik’, ternyata pun belum memenuhi harapan. Padahal, Hard skill lebih mudah diraih. Cukup training singkat, keahlian bidang tertentu bisa dikuasai. Tetapi, soft skill terkait pola pikir dan pembudayaan suatu sikap yang baik. Dan ini perlu proses ‘penanaman’ (inculcation) nilai yang panjang dan kadang berliku.

Inilah yang populer dikenal sebagai pendidikan karakter. Dalam bahasa Islam, itu disebut adab atau akhlak mulia. Adab dan akhlak mulia bersumber dari keimanan, berakar dalam jiwa dan terwujud dalam sikap serta perilaku terpuji. Prof. Naquib al-Attas merumuskan, bahwa pendidikan pada intinya adalah proses penanaman nilai-nilai kebaikan atau nilai-nilai keadilan: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self.”

Perguruan Tinggi Ideal

Jadi, sejatinya, “pendidikan” tidak sama dengan “training” pekerja. Lembaga Pendidikan tidak sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK). “Training” hanya sebagian dari proses pendidikan. Pendidikan bangsa adalah usaha membentuk anak bangsa menjadi manusia-manusia seutuhnya, menjadi manusia yang baik, yakni manusia yang adil dan beradab, atau manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.

Konsep pendidikan ini dengan tegas disebutkan dalam UUD 1945 pasal 31 (3): “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.”

Amanah UUD 1945 itu begitu jelas. Bahwa, tujuan utama pendidikan kita – di seluruh jenjang — harus didasarkan pada usaha pembentukan manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Tujuan ini diperkuat dengan UU No 20/2003 tentang Sisdiknas, UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Permendikbud No 20/2016 tentang SKL. Jadi, secara legal-konstitusional, tujuan pendidikan nasional sangat ideal.

Sejalan dengan itu, patut disyukuri, dalam kurun 25-30 tahun terakhir, terjadi kebangkitan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia, khususnya, pada tingkat TK, dasar, dan menengah. Kini, banyak kalangan menengah dan atas dari kaumpmuslim tak segan mengirim anaknya ke sekolah-sekolah Islam, atau bahkan ke pondok-pondok pesantren. Dan bagi sebagian orang, bayar mahal pun tak soal.

Sejalan dengan suksesnya pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah, maka aneka Perguruan Tinggi Islam (PTI) pun dibuka, menyusul puluhan kampus Islam yang sudah berkiprah di Indonesia berpuluh tahun lamanya. Sayangnya, hingga kini, kampus-kampus Islam itu belum menjadi tujuan utama murid-murid pintar lulusan SMA Islam. Berbagai SMA Islam masih mengutamakan kriteria sukses pendidikannya pada tingkat penerimaan di perguruan tinggi negeri (PTN) atau perguruan tinggi favorit.

Kebangkitan sekolah-sekolah Islam telah meluluskan ribuan murid-murid SMA Islam berkualifikasi tinggi, baik akademik maupun akhlaknya. Logisnya, murid-murid terbaik itu memilih PTI sebagai tujuan utama kuliahnya, sebab PTI didirikan memang untuk melakukan proses pendidikan yang Islami. Di PTI inilah para mahasiswa dididik serius menjadi ilmuwan beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan memiliki jiwa dakwah yang kuat.

Dengan menyandang nama Islam, nama Nabi Muhammad, atau nama ilmuwan Muslim tertentu, sudah saatnya PTI memiliki jari diri sebagai lembaga pendidikan Islam sejati. Di PTI inilah para mahasiswa dididik dengan konsep pendidikan Islam yang baku – sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khathab r.a.: “taadabû tsumma ta‘allamû”. Intinya, pendidikan, adalah proses penanaman adab dan penguasaan ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional.

PTI adalah Jaamiah atau Kulliyyah. PTI bertujuan membentuk manusia yang kulliy, insan kamil, bukan manusia parsial (juz’iy). Maka, seharusnya, inti kurikulum PTI adalah penanaman nilai-nilai keadilan, yang dilandasi dengan tazkiyyatun nafs (pensucian jiwa) sebagai pusatnya. Sebab, hanya manusia yang mensucikan jiwanya yang sukses (QS 91:9). Maka, sudah saatnya, PTI bangkit dan berani membuat kriteria keunggulan akademik yang khas (unik) dan unggul –berbeda dengan institusi pendidikan sekular.

Sesuai konsep ini, proses pendidikan di PTI, diawali dengan proses penanaman nilai, untuk membentuk manusia beradab atau berakhlak mulia. Hanya mahasiswa yang adab atau akhlaknya baik saja yang boleh melanjutkan menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Proses ini memerlukan keteladanan pimpinan dan dosen, pembiasaan penerapan nilai-nilai kebaikan, dan juga kedisiplinan dalam penegakan aturan.

Model pendidikan “taadabû tsumma ta‘allamû” sudah lazim diterapkan dalam proses pendidikan para ulama di masa lalu. Al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” Belajarlah sikap penyayang sebelum belajar ilmu! Menurut Prof. Naquib al-Attas, inti pendidikan adalah penanaman adab dalam diri seorang manusia sebagai manusia (The fundamental element in the Islamic education is inculcation of adab).

Konsep pendidikan ini sudah terbukti melahirkan generasi yang tangguh, seperti generasi sahabat Nabi, generasi shalahudin al-Ayyubi, dan generasi Muhammad al-Fatih, juga generasi santri 1945 di Indonesia, yang berjaya mempertahankan kemerdekaan RI. Ratusan tahun sebelum kedatangan penjajah di Indonesia, kaum Muslim sudah memiliki sistem pendidikan yang hebat, yaitu madrasah dan pondok pesantren; mulai tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Tahun 1905, di Jakarta sudah berdiri Madrasah Aliyah Jamiat Khair yang berkualitas internasional, dengan guru-gurunya didatangkan dari Sudan, Tunis, dan Saudi Arabia.

Yang patut dicatat adalah, bahwasanya, inti kurikulum pendidikan di PTI adalah proses pensucian jiwa insan, dengan meletakkan pengajaran ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Jangan meletakkan matematika, ekonomi, sosiologi, fisika, dan sebagainya lebih penting dari iman, taqwa, dan akhlak mulia! Dalam proses inilah diperlukan guru-guru atau dosen-dosen yang bisa menjadi teladan kehidupan dan keilmuan.

Era Disrupsi

Seperti disebutkan, Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah eksis, ratusan tahun sebelum datangnya penjajah Barat yang kemudian mengenalkan bentuk sekolah dan universitas sekuler. Hingga kini puluhan ribu pesantren tetap eksis dan berperan penting dalam proses pendidikan di Indonesia.

Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren memiliki ciri-ciri khas yang sudah menyejarah. Diantaranya adalah: (1) Ada keteladanan kyai dan para astad (2) ada pengkajian ilmu agama secara mendalam (tafaqquh fid-din) (3) ada penanaman adab dan akhlak mulia (4) ada penanaman jiwa dakwah dan cinta tanah air (5) ada pengkajian pemikiran kontemporer (6) ada pembentukan jiwa mandiri.

Karena cirinya yang khas itulah, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang ideal untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana disebutkan dalam UUD 1945 pasal 31 (3). Apalagi, saat ini, kita memasuki satu zaman yang disebut “Era Disrupsi”.

Dalam artikelnya yang berjudul “Menghadapi Era Disrupsi”, Muhammad Nur Rizal (Ketua Grup Riset Digital Literasi DTETI UGM), menulis:

“Dunia hari ini sedang menghadapi fenomena disruption (disrupsi), situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah.”

Dan di era disrupsi, peran guru juga akan berubah. Guru bukan lagi menjadi sumber informasi utama. “Namun,” tulis Nur Rizal, “yang lebih penting adalah revolusi peran guru sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, serta team work siswa yang dibutuhkan pada masa depan.” (https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/24/ozw649440-menghadapi-era-disrupsi).

Jadi, di era disrupsi, eksistensi Perguruan Tinggi (PT) tidak lagi bisa mengandalkan model pendidikan yang terlalu birokratis dan tidak efisien. Sebab, PT bukan lagi merupakan sumber informasi sains dan teknologi yang utama. Begitu juga, “jualan” PT lainnya berupa gelar akademis atau ijazah formal akan menghadapi tantangan berat. Sebab, dunia kerja dan dunia otoritas keilmuan, akan lebih bertumpu kepada karya nyata dan kemampuan professional. Bukan gelar akademis dan nama institusi.

Maka, benar seperti ditulis Muhammad Nur Rizal, yang akan lebih berperan dalam pendidikan – termasuk Pendidikan Tinggi – adalah kualitas guru. Yakni, guru-guru yang mampu memainkan dirinya sebagai mentor, fasilitator, motivator, dan inspirator dalam pembentukan karakter peserta didik.

Dalam dunia pendidikan di Pondok Pesantren, peran-peran guru seperti ini merupakan tradisi pendidikan yang sudah berjalan semenjak zaman Nabi Muhammad saw. Inilah yang hakikatnya disebut sebagai proses ‘ta’dib’, proses penanaman adab atau nilai-nilai akhlak mulia dalam diri seseorang. Termasuk dalam proses ini adalah penanaman nilai-nilai cinta ilmu dan ibadah.

Proses perubahan yang begitu cepat dalam dunia pendidikan di era disrupsi ini tidak mudah dipahami, dan bahkan sepertinya belum banyak dipahami oleh para orang tua, guru, dan praktisi pendidikan. Proses rutinitas pendidikan dan administrasi yang terlalu membelenggu pendidikan, menyebabkan berkembangnya sikap pragmatis, sehingga dunia pendidikan digayuti dengan keengganan dan ketidaksempatan para guru untuk melakukan proses pencarian ilmu dan perenungan akan hakikat kehidupan.

Pesantren Tinggi At-Taqwa

Kehadiran Pesantren Tinggi at-Taqwa (at-Taqwa College) merupakan sebuah keharusan (bahasa fiqihnya: Fardhu Kifayah) dalam dunia Pendidikan Indonesia saat ini. Ada beberapa hal yang mendasarinya:

(a) Perlunya model kampus yang benar-benar berkomitmen menerapkan konsep Islamisasi Ilmu dan pendidikan berbasis adab di peringkat Perguruan Tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga – lebih penting lagi – menyiapkan para kader ulama dan cendekiawan muslim yang berkualifikasi sebagai pewaris misi kenabian. Di At-Taqwa College ini, para mahasantri ditempa menjadi pejuang-pejuang intelektual, yang siap diterjunkan ke tengah masyarakat, sebagai guru, wartawan, wirausahawan, imam dan manajer masjid, dan sebagainya.

(b) Era disrupsi menyediakan peluang besar bagi terlaksananya sistem pendidikan yang efektif dan efisien, dengan melimpahnya informasi tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di Kampus at-Taqwa College, mahasantri dididik untuk menguasai IT dan Pendidikan pesantren sangat menekankan aspek keikhlasan, keilmuan, kesungguhan, dan kesederhanaan. Hingga kini, banyak pesantren masih menerapkan prinsip pendidikan yang mulia tersebut, dan mereka tetap eksis. Tetapi, kini, banyak pesantren harus mengubah jatidiri kepesantrenannya karena tuntutan formalitas pendidikan.

Padahal, di era disrupsi saat ini, dunia kini justru semakin mengarah kepada kemandirian informasi dan efisiensi. Berbagai aktivitas kehidupan yang tidak efisien dan tidak praktis akan ditinggalkan masyarakat. Pendidikan yang lebih mengandalkan mekanisme formal untuk mengejar gelar akademis atau ijazah formal, cepat atau lambat, akan sulit bertahan. Karena itu, sekarang, saatnya Pesantren mengambil kesempatan untuk memimpin dunia pendidikan. Pesantren harus membuktikan bahwa pendidikan terbaik – termasuk dalam jenjang pendidikan tinggi – adalah Pondok Pesantren. Dan itu akan dilihat dari kualitas produknya; dari kualitas lulusannya.

Dan, sesuai dengan tuntunan al-Quran (QS 3:110, 3:139, 49:13, 5:54, 8:65-66, 91:9-10), dan contoh-contoh keteladanan Rasululmampu memanfaatkan sumber-sumber informasi secara adil dan beradab. Era disrupsi juga memudahkan para mahasantri untuk belajar mandiri dengan bimbingan para dosen.

(c) Tersedianya tenaga-tenaga dosen dan ulama muda yang mumpuni dalam ilmu dan akhlak mulia. Alhamdulillah, saat ini cukup banyak para dosen dan ulama muda yang berkualitas dalam keilmuan dan akhlak mulia. Beberapa diantaranya memiliki pengalaman mengajar di berbagai kampus di dalam dan di luar negeri. Potensi-potensi dosen yang berkualitas ini lebih bisa dioptimalkan secara optimal dengan sistem pendidikan pesantren, yang lebih mengutamakan kualitas ilmu dan akhlak mulia bagi dosen, ketimbang gelar akademis formal atau linieritas. Pendidikan pesantren juga sangat menekankan aspek keikhlasan dalam menuntut ilmu, sehingga lebih memungkinkan para mahasantri meraih ilmu yang bermanfaat.

(d) Sebagai kelanjutan jenjang Pendidikan Tingkat SMA yang ada di Pesantren at-Taqwa Depok (PRISTAC). Kewujudan at-Taqwa College memang sebuah keharusan, karena kami bertekad, bahwa santri-santri Pesantren at-Taqwa tingkat SMA – PRISTAC – yang memiliki kualitas intelektual dan kepribadian Islam yang tinggi, harus melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi at-Taqwa sendiri, agar mereka menjadi kader Pesantren yang unggul, yang nantinya mampu mengembangkan perjuangan melalui pondok-pondok pesantren atau terjun langsung di tengah masyarakat.

(e) Semakin berkembangnya model kampus dan perkuliahan online, yang menyediakan aneka legalitas formal tingkat Sarjana Strata-1. Kondisi seperti ini lebih memungkinkan para mahasiswa di Perguruan Tinggi formal untuk belajar mandiri dan semakin sedikit bentuk kuliah tatap muka dengan para dosennya. Keadaan seperti ini justru menuntut kehadiran suatu Pesantren Tinggi non-formal yang benar-benar memiliki kurikulum dan dosen-dosen yang berkualitas tinggi dalam ilmu dan akhlak.

Jika dahulu, pesantren-pesantren mahasiswa menjadi sambilan menuntut ilmu dari para mahasiswa yang kuliah di Perguruan Tinggi formal, maka saat ini, kondisi itu bisa dibalik. Justru di Pesantren Tinggi inilah, para mahasantri belajar serius ilmu-ilmu yang bermanfaat, belajar tentang hidup dan kehidupan, dibimbing oleh guru-guru yang baik, sehingga mereka dapat meraih ilmu dan ketrampilan hidup yang bermanfaat. Jika mahasantri merasa perlu gelar akademis, maka ia bisa mengambil kuliah di suatu Perguruan Tinggi formal yang tidak mengganggu proses pembelajarannya di Pesantren Tinggi.

Harus Jadi Terbaik

Demikianlah, sejumlah alasan mendasar, mengapa kehadiran Pesantren Tinggi at-Taqwa saat ini adalah suatu keharusan (fardhu kifayah). Saat ini merupakan momentum yang tepat untuk membuktikan bahwa model Pendidikan Islam (Pondok Pesantren), dengan ciri-cirinya yang khas, adalah lembaga pendidikan terbaik. Dalam sejarahnya yang panjang di Indonesia, bahkan di masa penjajahan, Pesantren mampu melahirkan ulama-ulama dan pejuang-pejuang yang tangguh.

Pendidikan pesantren sangat menekankan aspek keikhlasan, keilmuan, kesungguhan, dan kesederhanaan. Hingga kini, banyak pesantren masih menerapkan prinsip pendidikan yang mulia tersebut, dan mereka tetap eksis. Tetapi, kini, banyak pesantren harus mengubah jatidiri kepesantrenannya karena tuntutan formalitas pendidikan.

Padahal, di era disrupsi saat ini, dunia justru semakin mengarah kepada kemandirian informasi dan efisiensi. Berbagai aktivitas kehidupan yang tidak efisien dan tidak praktis akan ditinggalkan masyarakat. Pendidikan yang lebih mengandalkan mekanisme formal untuk mengejar gelar akademis atau ijazah formal, cepat atau lambat, akan sulit bertahan.

Karena itu, sekarang, saatnya Pesantren mengambil kesempatan untuk memimpin dunia pendidikan. Pesantren harus membuktikan bahwa pendidikan terbaik – termasuk dalam jenjang pendidikan tinggi – adalah Pondok Pesantren. Dan itu akan dilihat dari kualitas produknya; dari kualitas lulusannya.

Dan, sesuai dengan tuntunan al-Quran (QS 3:110, 3:139, 49:13, 5:54, 8:65-66, 91:9-10), dan contoh-contoh keteladanan Rasulullah saw dalam melahirkan generasi terbaik, juga didukung oleh fakta sejarah lahirnya beberapa generasi gemilang, kaum muslim dituntut untuk berbuat dan menjadi yang terbaik.

Dengan semangat dan amanah untuk menjadi yang terbaik itulah, insyaAllah, Pesantren Tinggi at-Taqwa Depok, bertekad untuk melahirkan lulusan-lulusan terbaik, yang lebih baik dari kualitas lulusan Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia lainnya. Dengan cara inilah, akan bisa dilahirkan satu generasi unggul. Di masa yang akan datang, InsyaAllah mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini, di berbagai bidang kehidupan. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 9 Agustus 2018).

Categories: Essay

Leave a Reply