IMG-20161203-WA0047
“Rasulullah tidak hanya meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah, namun juga meninggalkan generasi tangguh Umat Islam yang menjadi contoh keberhasilan pendidikan yang dilakukan Rasulullah.”

Kalimat ini disampaikan Dr Adian Husaini dalam acara Dialog Pendidikan Anak dan Launching Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilizations (PRISTAC) yang diadakan oleh Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa, Depok, Sabtu (3/12/16) di aula Gema Insani Press, DepokPRISTAC adalah pesantren berbasis adab setingkat SMA yang fokus pada kajian pemikiran dan peradaban Islam. Pesantren ini masih dinaungi oleh Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa, Depok. Acara yang dilaksanakan sehari setelah Aksi Super Damai Umat Islam Jilid III di Monas tersebut dihadiri ratusan peserta dan beberapa praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam paparannya, Dr. Adian mengingatkan agar Umat Islam mempersiapkan generasi Islam yang tangguh melalui pendidikan. Menurutnya, pendidikan adab atau ta’dib, akan membuat anak-anak mengerti dirinya sendiri sebagai generasi penerus perjuangan Nabi, para sahabat, dan para ulama. Untuk itulah, di sinilah kebutuhan untuk menyelenggarakan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis adab.

Hadirnya PRISTAC diharapkan menjadi sarana penting untuk menerapkan aplikasi pendidikan adab ini. Sebagai sebuah lembaga pendidikan tingkat SMA, PRISTAC didirikan untuk menjaga keseriusan pendidikan dalam mendidik generasi Islam. Oleh karena itu, tujuan PRISTAC adalah mencetak intelektual muslim pejuang dan guru yang baik, yang siap menghadapi tantangan da’wah global.

“PRISTAC mengambil porsi sebagian. Pada fardhu kifayah, kami fokuskan anak-anak memahami pemikiran dan peradaban Islam dengan baik. Nanti kalau mereka masuk ke perguruan tinggi, kami target yang terpenting adalah, dia menjadi guru yang baik, untuk menguasai bidang ilmu tertentu.” Kata Dr Adian

Pada sesi berikutnya Mudir PRISTAC, Ust Alwi Alatas menjelaskan bahwa kemampuan kratifitas, understanding, dan pelajaran akademis harus dipadukan dengan adab. Adab dan pemikiran tidak bisa dan tidak boleh dibenturkan. Keduanya merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Kemudian pada saat sesi tanya jawab, Ust Alwi menjawab pertanyaan peserta tentang masalah kepemimpinan dalam Islam terkait dengan pendidikan.

“Insyaa Allah, ada. Insyaa Allah, diajarkan mengenai kepemimpinan [Islam]. Tapi saya sendiri melihatnya lain. Sebetulnya, kami di PRISTAC ini ingin membangun sesuatu di atas leadership dalam bidang politik. Sebab sebetulnya di atas kepemimpinan politik itu ada ulama yang jadi rujukan. Kita justru berfikirnya ke situ, kita ingin membangun ulamanya. Kita ingat, ada leader yang hebat, misalnya Muhammad al-Fatih, yang bisa menaklukkan Konstantinopel, tapi jangan lupa bahwa ada penakluk spiritual Konstantinopel, yakni Syaikh Aaq Syamsuddin, gurunya Muhammad al-Fatih. Syaikh Aaq itu membangun visi penaklukkan Konstantinopel dan menanamkannya kepada al-Fatih. Dan beliau menemani proses penaklukkan sampai selesai. Kita mau membangun seperti itu, mendidik ulama. Yang ulamanya dirujuk para pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakat secara umum.” Kata Kandidat Doktor Sejarah Peradaban Islam dari IIUM ini.

Kita tentu berharap, semoga PRISTAC mampu mencetak calon ulama dan pemimpin umat di masa depan untuk selalu menjadi pembangun dignity dan kesejahterahan bangsa serta juga benteng dari segala tantangan da’wah Islam. [Ahd.]

Categories: GalleryUncategorized

Leave a Reply