Kajian Bulanan Orangtua: Agar Orangtua Tidak Kehilangan Anaknya

FB_IMG_1477262480791

Pada Sabtu lalu (15/10) At-Taqwa Qur’anic School Tingkat SD menyelenggarakan Kajian Bulanan Orangtua. Ini bagian dari kajian berseri yang seluruh rangkaiannya bertema pendidikan keluarga.

Pada seri kali ini, topik yang diangkat adalah konsep diri orangtua dengan pembicara Ustadz Adian Husaini, Pembina Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok.

Dalam pemaparannya, Ustadz Adian memberikan beberapa contoh kasus orangtua yang kehilangan anaknya. Kehilangan yang dimaksud di sini bukan berarti secara fisik, melainkan nonfisik.

Tidak jarang orangtua yang tidak mampu lagi berdialog dengan anaknya karena anak sudah memiliki cara berpikir sendiri yang tidak dipahami oleh orangtua sehingga orangtua tidak mampu lagi mengarahkan anaknya. Meski ada, namun tiada dapat diarahkan. Adanya seperti tiadanya, seperti hilang.

Nah, bagaimana agar orangtua tidak kehilangan anaknya? Berikut ini terdapat beberapa poin yang beliau paparkan:

1. Orangtua perlu memiliki ilmu, menguasai wacana, dan berdiskusi dengan orang berilmu. Orangtua perlu mempelajari apa yang dipelajari oleh anak sehingga orangtua memahami pemikiran anak. Dari situlah orangtua memiliki modal untuk mengarahkan mereka. Penguasaan wacana terkait perkembangan pemikiran juga berkaitan dengan bagaimana orangtua memahamkan kepada anak tentang tantangan permasalahan ummat dan berdiskusi dengan orang berilmu menjadikan orangtua semakin mendapat pengayaan, bisa dalam bentuk saran atau pengarahan.

2. Orangtua perlu berkomunikasi dengan anak secara baik. Anak merasa butuh dipahami sehingga perlu bagi orangtua untuk “masuk” melalui hal-hal yang disukai oleh anak sebab jika tidak maka akan timbul rasa “terus-terusan diceramahi” saja. Sosok yang paling mengenal anak adalah orangtua, idealnya, sehingga orangtualah yang memang tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Pengenalan ini tidak serta mudah sebab membutuhkan keikhlasan, ilmu, dan kebiasaan sehingga perlu untuk terus-menerus dilatih.

3. Orangtua perlu mengenali potensi anak guna diarahkan kepada kepentingan dakwah masa depan, bukan kepada _prestige_. Orangtua perlu membiasakan berdiskusi dengan anak guna membicarakan permasalahan ummat sehingga tergerak hatinya untuk turut menyelesaikannya (amar ma’ruf nahi munkar) melalui potensi yang dimiliki mereka. Tidak selalu harus menjadi pintar, tetapi harus menjadi baik sebab untuk menjadi baik tidak selalu harus menjadi pintar. Kita membutuhkan orang baik di setiap lini, seperti satpam yang baik, pedagang yang baik, guru yang baik, dokter yang baik, dan presiden yang baik.

4. Orangtua perlu berdoa sebab manusia berada dalam ranah ikhtiar, sementara Allahlah yang memegang keputusan. Orangtua dituntut memiliki niat yang benar dalam mendidik anak sehingga tidak pantas jika orangtua merasa bisa membentuk anak menjadi begini dan begitu sebab Allahlah yang menjadikannya demikian.

Mari kita belajar menjadi orangtua yang baik! Semoga kita tidak kehilangan anak-anak kita.

(nr)

Post Author: ponpes-attaqwa

Leave a Reply